Our Blog

Beragam Festival Kebudayaan Tionghoa Yang Menggunakan Lampion

Lampion merupakan salah satu jenis lentera yang sangat terkenal sebagai simbol khusus dan sakral disetiap perayaan kebudayaan Cina dalam hal ini lebih khususnya pada perayaan budaya Tionghoa. Penggunaan lampu ini untuk berbagai kegiatan festival telah diterapkan sejak 2000 tahun yang lalu. Seiring dengan berkembangnya kekaisaran Cina penggunaan lampu ini semakin terkenal dikala pemerintahan Dinasti Han ( tahun 206 SM sampai dengan 220 M ) yang dipergunakan sebagai salah satu simbol untuk memperkenalkan agama Budha atau Budhisme yang saat itu berkembang pesat di Cina. Pada saat itu pihak kaisar memerintahkan untuk menghidupkan lampion di Istana Kekaisaran untuk menghormati agama Budha dan para masyarakat yang memeluk agama tersebut. Selain untuk menghormati para pemeluk agama Budha, lampion yang dinyalakan di Istana juga sebagai penanda waktu beribadah sesuai dengan ajaran agama Budha yang jatuh pada setiap hari ke 15 di bulan lunar yang pertama.

Pada umumnya lampion yang digunakan di dalam kebudayaan Tionghoa sendiri terbagi ke dalam tiga jenis utama yang selalu dapat dijumpai di setiap perayaan festival. Jenis pertama dan yang paling sering dipergunakan adalah lampion gantung. Seperti namanya lampu ini digunakan sebagai dekorasi festival dengan cara di gantung di jalanan atau di setiap rumah para warga yang merayakan. Selain itu lampu jenis ini yang dipasang secara menggantung dipercaya dapat membawa keberkahan dan mengusir salah satu roh jahat dalam mitologi Cina yang disebut sebagai raksasa Nian. Jenis yang kedua adalah lampion terbang yang biasanya dijumpai pada saat perayaan festival musim gugur dan malam puncak perayaan tahun baru Cina atau festival Imlek. Jenis yang terakhir yaitu lampion mengambang yang pada umumnya digunakan di dalam perayaan festival naga dimana lampu-lampu di desain menyerupai bukan lotus atau teratai yang diletakkan mengambang di atas sungai.

Seperti yang kita ketahui bahwa kebudayaan Tionghoa merupakan salah satu jenis ragam budaya tertua yang telah ada bahkan sebelum sistem pertanggalan memasuki masa Masehi. Di setiap kebudayaan Tionghoa akan selalu ditemukan penggunaan lampion yang dipercayai sebagai simbol keberkahan dan pengusir roh jahat. Namun apakah anda tahu bahwa kebudayaan Tionghoa menggunakan jenis lampu ini di setiap festival besar yang dirayakan ?. Masyarakat penganut kebudayaan ini akan selalu mengikut sertakan beragam macam simbol yang dipergunakan sebagai salah satu pemberi makna terhadap hal yang sedang dirayakan. Selain itu tidak jarang bahwa di setiap lampu yang ada di perayaan di dalamnya digantung sebuah kertas kecil yang berisi dengan harapan-harapan di masa yang akan mendatang. Bahkan beberapa lampu terkadang berisikan kertas yang memuat teka-teki yang berkaitan dengan kebudayaan Cina yang diperuntukkan untuk permainan anak-anak dan sebagai sumber pengetahuan mengenai makna festival itu sendiri.

Festival pertama yang sangat dikenal oleh masyarakat luas adalah perayaan Imlek atau oleh masyarakat Indonesia lebih dikenal sebagai festival tahun baru Cina. Festival ini merupakan salah satu perayaan budaya paling terkenal di dunia sebab tidak hanya masyarakat berkebudayaan Cina yang merayakan namun juga hampir seluruh masyarakat ikut bersuka cita saat festival ini berlangsung. Bagi masyarakat Tionghoa sendiri festival ini dirayakan untuk menyambut datangnya musim semi. Hal tersebut dikarenakan di negara Cina terdapat empat musim yang selalu silih berganti dimana musim semi merupakan awal tahun yang baru pada sistem penanggalan Cina. Pada saat perayaan festival ini tidak luput berbagai pernak-pernik pelengkap yang harus ada yang berkaitan erat dengan kebudayaan Tionghoa seperti angpao ( yang merupakan amplop warna merah berisi hadiah seperti uang ), memasang lampion berwarna merah, serta adanya tarian barongsai dan tarian naga.

Festival yang kedua adalah festival Cap Go Meh atau yang dalam bahasa Cina disebut sebagai Yuan Xiao Jie yang dilaksanakan pada setiap hari ke 15 di bulan pertama dalam sistem penanggalan Cina. Festival ini juga sangat dinantikan oleh setiap masyarakat sebab untuk merayakannya seringkali diadakan pawai besar-besaran yang mengitari berbagai sudut kota dengan membawa sesembahan yang berisi hasil bumi seperti buah-buahan dan jajanan khas kebudayaan Tionghoa yang biasanya diserta dengan arca para Dewa. Festival ini sendiri diadakan dengan tujuan utama yaitu untuk menghormati para Dewa. Sebab festival ini memiliki legenda di dalamnya dimana dikisahkan suatu saat ada salah satu warga yang membunuh burung yang sangat indah yang muncul dari ketinggian langit. Ternyata burung tersebut adalah salah satu hewan kesayangan Kaisar di surga sehingga mengetahui hewan tersebut terbunuh maka Kaisar membakar seluruh desa pada hari ke 15 di bulan lunar yang pertama. Sejak saat itu masyarakat memasang lampion berwarna merah di seluruh area desa dan disetiap rumah untuk mengelabui Kaisar agar berpikir desa tersebut telah terbakar akibat pandaran warna merah yang terang.

Festival selanjutnya yang sangat digemari oleh para gadis adalah festival Qi Xi yang juga dikenal sebagai hari valentine dalam kebudayaan Tionghoa. Perayaan ini ditujukan untuk merayakan legenda cinta yang terkenal di dalam kebudayaan Tionghoa yaitu kisah cinta antara Niu Lang yang merupakan pria penggembala dan seorang gadis bernama Zhi Nu yang merupakan seorang penenun. Dimana mereka berdua hanya dapat bertemu sebanyak satu kali di setiap tahunnya. Festival ini selalu dirayakan setiap tanggal 7 di bulan Juli setiap tahunnya  dimana biasanya para gadis yang belum mendapatkan jodoh akan berdoa di kelenteng supaya diberikan kemampuan yang baik dalam hal seni serta dipertemukan dengan jodoh yang baik. Pada zaman kekaisaran dahulu pada masa ini para gadis yang masih sendiri diperbolehkan untuk keluar rumah tanpa pendamping dan berkumpul di sebuah taman dihiasi lampion merah untuk bercengkrama dengan para lelaki yang juga masih sendiri.

Festival selanjutnya adalah festival Ceng Beng atau Qing Ming yang merupakan salah satu festival paling sakral di dalam kebudayaan Tionghoa. Sebab festival ini diadakan untuk merayakan para keluarga yang telah meninggal dan memberikan persembahan kepada para leluhur. Saat festival ini berlangsung pada umumnya akan diadakan ziarah kubur kemakam keluarga yang telah tiada sembari membawa buah-buahan, kue, dan karangan bunga. Saat ini festival ini selalu diadakan setiap tanggal 5 April pada kalender Masehi dan dirayakan dengan sangat sederhana di lingkungan keluarga. Pada zaman dahulu perayaan festival ini juga disertai dengan memasang lampion berwarna putih dengan bentuk teratai yang diletakkan di sungai sebagai simbol jiwa-jiwa yang telah tiada.

Festival terakhir adalah festival musim gugur atau yang lebih dikenal dengan festival Tiong Ciu Pia yang dalam bahasa Indonesia berarti memakan kua pia atau kue bulan. Festival ini mulai dikenal sejak zaman Dinasti Ming dan Dinasti Qing yang pada saat itu dirayakan dengan menanam pohon, melakukan tarian naga, dan memasang lampion berwarna merah. Pada Dinasti Song perayaan festival ini ditandai dengan saling mengirimkan kue bulan berlambang kelinci kepada sanak saudara sebagai sebuah simbol untuk mempertahankan keutuhan keluarga.

 

Leave a Reply

Get more stuff like this
in your inbox

Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.

Thank you for subscribing.

Something went wrong.